Zona nyamanku, Zona tidak nyaman.
Belum ada 30 menit ku menikmati kolam mimpi dengan segala ornamen harapan manisnya, angin bergemuruh, mengganggu jiwa, memaksa diri untuk cepat sadar.
Tendaku runtuh seketika angin menunjukkan tajinya. Pertanda bahwa angin sedang menguji, seberapa besar kekuatanku.
Hendak ku telusuri kemana arah angin datang, dampaknya nyata, namun wujudnya tak terlihat.
Kali ini kita dihadapkan pada lintasan padang pasir, selayang mata memandang, jalan hanya dipenuhi oleh tanah kering nan tandus dan di beberapa sudut ku temui kaktus memanjakan tubuhnya mantap. Panorama indah untuk para petualang yang tak kenal henti berjuang. Kekebalan dari segala buruknya rasa, didapatkan dari ketangguhan diri melawan emosi.
Memulai dengan kondisi sulit tentu tidaklah mudah, terlebih amunisi yang disiapkan terbatas.
Pulang dengan rasa takut jelas bukan tujuan. Lebih baik pulang dengan tangan hampa namun telah menempuh perjalanan dengan gagah, dengan segenap keberanian.
Soal berhasil atau tidaknya, semuanya bergantung pada kita. Kita yang ditanggung sendiri olehku. Kita yang memiliki segala harapan di pundakku. Kita yang berkeluh kesah mengkhawatirkan keadaan, terangkum di otakku.
Menjadi single fighter bukan keinginan tapi memang kebutuhan. Kebutuhan yang didasarkan pada realita hidup, berjuang sendiri untuk kebahagiaan bersama. Pengalaman cukup menjadi keyakinan, segala pikiran yang membelenggu biarkan ditemani kemantapan hati. Perhatikan dengan baik dan seksama, seluruh rencana terususun rapih, terorganisasi secara sistematis dan menangkap segala peluang dengan kematangan. Ambil saja risiko, itu jauh lebih baik ketimbang menghindari namun memberangus asa.
Aku tidak pernah punya satu alasan pun untuk berhenti ditengah jalan, itu lucu.
Mungkin kemampuanku kecil, namun ku tak mampu membendung asa yang sedemikian kuatnya untuk bertahan.
Dan kita sedang menyelesaikan proses perjalanan ini, tak lagi mempedulikan hasil.
Tendaku runtuh seketika angin menunjukkan tajinya. Pertanda bahwa angin sedang menguji, seberapa besar kekuatanku.
Hendak ku telusuri kemana arah angin datang, dampaknya nyata, namun wujudnya tak terlihat.
Kali ini kita dihadapkan pada lintasan padang pasir, selayang mata memandang, jalan hanya dipenuhi oleh tanah kering nan tandus dan di beberapa sudut ku temui kaktus memanjakan tubuhnya mantap. Panorama indah untuk para petualang yang tak kenal henti berjuang. Kekebalan dari segala buruknya rasa, didapatkan dari ketangguhan diri melawan emosi.
Memulai dengan kondisi sulit tentu tidaklah mudah, terlebih amunisi yang disiapkan terbatas.
Pulang dengan rasa takut jelas bukan tujuan. Lebih baik pulang dengan tangan hampa namun telah menempuh perjalanan dengan gagah, dengan segenap keberanian.
Soal berhasil atau tidaknya, semuanya bergantung pada kita. Kita yang ditanggung sendiri olehku. Kita yang memiliki segala harapan di pundakku. Kita yang berkeluh kesah mengkhawatirkan keadaan, terangkum di otakku.
Menjadi single fighter bukan keinginan tapi memang kebutuhan. Kebutuhan yang didasarkan pada realita hidup, berjuang sendiri untuk kebahagiaan bersama. Pengalaman cukup menjadi keyakinan, segala pikiran yang membelenggu biarkan ditemani kemantapan hati. Perhatikan dengan baik dan seksama, seluruh rencana terususun rapih, terorganisasi secara sistematis dan menangkap segala peluang dengan kematangan. Ambil saja risiko, itu jauh lebih baik ketimbang menghindari namun memberangus asa.
Aku tidak pernah punya satu alasan pun untuk berhenti ditengah jalan, itu lucu.
Mungkin kemampuanku kecil, namun ku tak mampu membendung asa yang sedemikian kuatnya untuk bertahan.
Dan kita sedang menyelesaikan proses perjalanan ini, tak lagi mempedulikan hasil.
Komentar
Posting Komentar